Sabtu, 04 Februari 2023

"Proofreading Sebelum Menerbitkan Buku"

 

 Resume Materi ke 12, KBMN Gelombang ke 28
 
 
 
"Proofreading Sebelum Menerbitkan Buku"
 
Materi Jum'at malam, Tgl 3 Februari 2023 ini disampaikan oleh Bapak Susanto, S.Pd dan dimoderatori oleh Ibu Halwiyah, S.Pd., M.Pd, dengan membawa judul: "Proofreading Sebelum Menerbitkan Buku.," dengan tema besarnya adalah 'Proofeading.'

Sering sekali saat kita menulis tanpa disadari tulisan itu ketika kita posting dan kita baca kembali ternyata banyak terjadi kesalahan disana-sini, entah salah huruf, tanda baca atau kalimat yang kurang tepat. Keliruan atau kesalahan dalam tulisan itu bisa jadi merupakan suatu hal yang wajar, begitu pun ketika kita menulis dengan menggunakan media kertas sering kali tulisan itu harus dihapus karena sautu kesalaha, baik menulis dengan pensil mau pun pulpen yang harus dihapus dengan menggunakan penghapus yang sesuai.

Namun di era digital saat ini, sebagian besar orang nyaris meninggalkan alat tulis itu untuk menulis dan beralih ke berbasis IT, yaitu dengan menggunakan alat elektronik, baik HP, laptop, komputer dan lain sebagainya. Karena dengan kemajuan tekologi, komputer membuat orang tidak lagi memerlukan penghapus, tipe x, atau correction tape sebab dengan mudah menghapus tulisannya dengan menekan  tombol tertentu pada keyboard komputer lalu dengan mudah  menghapus dan memperbaiki kesalahan-kesalahan  tulis tersebut.

Nah pembelajaran atau pemberian materi pada malam ini adalah untuk mempelajari bagaimana cara memperbaiki kesalahan dalam tulisan dengan cara lebih mudah, apalagi dengan mendapatkan petunjuk bagian mana yang harus dibetulkan dan usulan penggantiannya, inilah materi yang disamapaikan oleh PakDSus. Tentu saja pembelajaran ini sangat menyenangkan karena sangat dibutuhkan oleh para penulis apalagi penulis pemula seperti kami agar dapat melakukan perbaikan dalam tulisan yang dibuat.

Perbaikan kesalahan dalam tulisan inilah menjadi bahasan utama pertemuan ke 12 dalam pelatihan Kelas Belajar Menulis Nusantara gelombang 28 kali ini, proses inilah yang dikenal dengan istilah proofreading. Usaha perbaikan tanda baca dan kesalahan menulis itu merupakan suatu bentuk dari proofreading atau uji-baca. Istilah ini menjurus kepada pengertian sebagai upaya membaca ulang sebuah tulisan yang bertujuan untuk menganalisis kesalahan dalam tulisan tersebut dan orang yang melakukan proffreading disebut proofreader.

Sekilas proofreading banyak yang mengartikan dengan editing, namun  jika ada yang menghubungkan proofeading dengan pengertian editing, sebetulnya keduanya merupakan dua hal yang berbeda karena proofreading adalah proses peninjauan kembali sebuah teks dilihat dari aspek kebahasaan dan penulisannya. Tujuannya adalah guna menelaah kembali bahwa teks atau esai yang akan diserahkan sudah bebas dari kesalahan pengetikan (typo), kesalahan ejaan, kesalahan grammar atau kesalahan-kesalahan mendasar lainnya. Yang melakukan editing, orangnya disebut editor, memeriksa lebih dari itu  untuk penerbit Mayor, editor menyesuaikan dengan misi perusahaan penerbitan, standar tulisan sedangkan  proofreader melakukan uji baca pada tulisan.

  • Definisi yang didapatkan tentang perbedaan antara tugas editor dan proofeader, yang menyatakan bahwa: "Editor, pengertiannya adalah seorang yang bertugas membaca naskah secara menyeluruh dan melakukan perbaikan mulai dari tata bahasa, tanda baca, hingga struktur kalimat. Sedangkan proofreader, hanya bertugas membaca kembali dan memastikan naskah sudah siap sepenuhnya untuk dimasukkan pada proses selanjutnya." 
  • Perbedaan dengan proofreader adalah editor mempunyai kewenangan secara langsung untuk memperbaiki masalah dalam naskah, mulai dari tatanan bahasa hingga struktur kalimat sehingga terkadang ia harus menjalin komunikasi dengan penulis. Sedangkan proofreader tidak demikian. Dengan kata lain, editor menangani naskah yang masih mentah. (https://jejakpustaka.com/pengertian-serta-perbedaan-editor-dan-proofreader/)

Swasunting

Dalam praktek proofreading, seseorang dapat melakukan selfediting atau swasunting, namun sebelum proses selfediting penulis sebaiknya tidak mempublis tulisannya ketika sudah selesai menulis atau menekan titik pada kalimat terakhir. Sebaiknya tulisan diendapkan dulu atau disimpan sementara dalam beberapa waktu (satu jam, dua jam, atau bisa sehari, tergantung situasi) Dan ikuti langkah-langkah di bawah ini:

tahapan swasunting

Untuk melakukan analisis kesalahan pada tulisan, penulis dapat meminta seseorang untuk membaca ulang tulisan atau membaca ulang sendiri. Jika ada yang membacakan maka penulis mendengarkan sambil melakukan pengamatan terhadap kesalahan yang ada dalam tulisannya itu. Cara ini cukup efektif karena melibatkan indra pendengar.

Jika dibutuhkan, penulis dapat meminta bantuan proofreader dengan "resiko" harus memberikan tulisannya, nah untuk melakukan swasunting penulis dapat menggunakan aplikasi atau editing. Google doc merupakan salah satu tool yang dapat dimanfaatkan untuk melakukan swasunting.

Kapan Melakukan Proffreading

Proofreading sebagai kegiatan uji-baca merupakan tahapan menulis yang tidak dapat diabaikan, apalagi tulisan tersebut akan diproduksi dan dipublikasikan sebaiknya lakukan proofreading ketika tulisan sudah selesai.
 
posisi 
Umumnya yang sering terjadi adalah banyak para penulis pemula melakukan uji-baca ketika tulisan baru setengah jadi, hal ini menyebabkan tulisan tidak kunjung selesai. Analogi tepat untuk melakukan proofreading seperti ini laiknya bagai proses finishing pada sebuah bangunan yang dindingnya belum selesai atau jendelanya belum dipasang lalu melakukan pengecatan. maka hasilnya akan sia-sia, artinya proofreading itu semacam finishing sebuah rumah sebagai upaya mempercantik bangunan tersebut, maka lakukanlah setelah tulisan usai dibuat.

Bagaimana melakukan Proofreading?

Dalam proses proofreading hal-hal yang perlu dilakukan adalah sebagai berikut.


Pertama, Perhatikan detail tulisan yang mencakup huruf, tanda baca, dan spasi. Hal ini penting agar tulisan tampil profesional.

Kedua, Membaca dengan lantang. cara ini cukup efektif karena dengan mendengarkan suara lantang saat tulisan dibaca, kesalahan tulisan akan lebih mudah dideteksi, keterlibatan indera pendengar untuk mengetahui kesalahan dapat mempercepat proses proofreading.

Ketiga, membaca perlahan. Ini dapat dilakukan pada tulisan non fiksi yang padat dan bersifat teknis, namun al ini membutuhkan waktu yang lebih lama untuk melakukan koreksi.

Keempat, Bersitirahat dan berbaik hati pada diri sendiri. Proofreading membutuhkan kerja otak dengan konsentrasi yang cukup tinggi, hal ini dapat menyebabkan energi terkuras sehingga sulit mempertahankan fokus atau konsentrasi dalam rentang waktu panjang. Oleh karena itu, penulis sebaiknya istirahat beberapa saat, jika pikiran sudah segar, proofreading dapat segera dilanjutkan.

Sebagai catatan bahwa referensi yang digunakan untuk membantu proofreading adalah Kamus Besar Bahasa Indonesia dan Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI) yang sejak 16 Agustus 2022 diganti dengan EYD. Ketetapan itu merujuk pada Keputusan Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemendikbudristek Nomor 0424/I/BS.00.01/2022 tentang Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan. Ketentuan tentang ejaan bahasa Indonsia melalui laman https://ejaan.kemdikbud.go.id/ 


        Makassar, 04 Februari 2023.



Minggu, 15 Januari 2023

"Gali Potensi Ukir Prestasi"


 Resume Materi ke-3 KBMN angkatan ke-28

 
 "Gali Potensi Ukir Prestasi"
 
Bismillaahirrohmaanirrohiim
 
 
Salam Teman-teman Penulis yang terhormat 
Assalammu'alaikum wr.wb,  hom swastiastu, namobuadaya dan salam kebajikan serta salam sejahtera untuk semuanya.

Malam ini Jum;at malam, tanggal 11 Januari 2023 disampaikan materi ke-3 dari kegiatan KBMN angkatan ke-28 yang disampaikan oleh Ibu Aam Nurhasanah, S.Pd., seorang guru bahasa Indonesia di SMP dari Cipanas yang telah memiliki banyak sekali prestasi di tengah-tengah kesibukannya mengajar dan memiliki prestasi yang banyak serta memperoleh hadiah dan penghargaan yang banyak pula. Tulisan-tulisannya berupa buku ontologi yang jumlahnya sudah puluhan buah serta buku tulisan dan karya pribadi juga sebagai blogger sejati. Bahkan saat ini sedang memiliki bayi mungilnya pun masih tetap bisa berkarya bahkan menjadi narasumber di mana-mana.
 Tema malam ini yang diusung kali ini adalah "Menggali potensi untuk mengukir prestasi," tentu saja  apa yang dikatakannya bukanlah sekedar pemanis bibir apa lagi bicara bohong, karena sebagian kebenaran kabar baik itu terungkap lewat pengalaman pribadinya.

Ibu muda kelahiran 12 Agustus 1988 ini sudah membuktikan sendiri betapa potensi seseorang bisa digali dan akhirnya membuahkan hasil dan prestasi yang membuat kagum diri sendiri dan orang-orang di sekitarnya. Memang menurutnya bahwa kendala yang dihadapi para penulis pemula juga pernah dia alami dan dihadapinya, rasa seperti enggan untuk mulai membuat tulisan karena takut tulisan jelek, atau takut dibully, rasa tidak percaya diri dan takut tulisan tidak sempurna juga meliputi dirinya. Selain itu ada keraguan untuk mempublikasi tulisan sehingga tulisannya hanya disimpan dan membiarkan ide itu menguap hingga berlalu begitu saja.

Setelah berproses akhirnya beliau berhasil menemukan potensi yang ada pada dirinya kemudian menuangkannya menjadi beragam tulisan. Sebagian diantaranya menjelma menjadi buku-buku. Tidak kurang dari 56 buku telah dihasilkannya.

Selain itu beliau juga menjadi editor bagi para penulis mula, beberapa diantara mereka telah berhasil menerbitkan buku karya  mereka sendiri atas bimbingan dan arahan penulis yang aktif dan kreatif ini.

Dengan motto hidup “Ingin menulis seribu buku, selalu berbagi dan menginspirasi negeri”, kapasitas Ibu Aam Nurhasanah, S.Pd. sebagai narasumber dalam sesi ini memang tidak perlu diragukan lagi


 


Gali Potensi - Ukir Prestasi

“Setiap manusia diberikan kesempatan yang sama untuk menggali segala potensi yang dimiliki untuk meraih prestasi,” demikian dikatakan Aam Nurhasanah, SPd.

Narasumber mengatakan bahwa untuk menggali potensi, kita bisa mulai dengan apa yang kita sukai.  Sebagai contoh, narasumber menuturkan “…saya suka menulis maka saya menekuni dunia tulis. Saya menulis dari apa yang saya sukai, apa yang saya alami, atau apa yang saya kuasai. Kita bisa menulis puisi, pantun, cerpen, novel, atau kisah inspiratif yang bisa menginspirasi negeri.” demikian katanya.

Sebagai contoh, Aam Nurhasanah menunjukkan beberapa buku hasil tulisannya:

Buku solo pertamanya yang berjudul “Mengukir Mimpi Jadi Penulis Hebat”, terbit  bulan Agustus 2020, sebuah buku yang berisi tentang pengalamannya kettika mengikuti kelas "Belajar Menulis Nusantara Angkatan 12."

Pengalaman lainnya adalah setelah dinnyatakan lulus dari KBMN 12, Aam Nurhasanah mengabdikan diri menjadi Tim Solid Om Jay dan bertugas menjadi moderator di kelas belajar menulis dan kelas belajar bicara, tugas ini merupakan pengalaman yang juga perlu dibagikan dan Aam merasa sayang jika kisah ini terlewat begitu saja, maka terbitlah buku solo keduanya yang berjudul “Kunci Sukses Menjadi Moderator Online”

Terbitnya buku-buku tersebut tidak terlepas dari keuletan Aam Nurhasanah dalam menggali potensi yang ada dalam dirinya, salah satu cara yang ditekuninya dalam menggali potensi diri itu adalah dengan mengikuti Kelas Belajar Menulis Nusantara (KBMN), yang diakuinya ketika pertama kali beliau mengikuti KBMN adalah pada Angkatan ke-8, namun sayangnya pada Angkatan itu beliau belum memenuhi persyaratan untuk lulus. Namun beliau terus berusaha memupuk kembali semangatnya dan mengikuti kembali KBMN di Angkatan ke-12, alhamdulillaah pada  kesempatan inilah potensinya benar-benar mulai tergali dan ditampakkan dalam bentuk buku yang berhasil diterbitkannya, dengan judul :Kunci Sukses Menjadi Moderator Online."



Prestasi beliau terus melesat dengan pesat sehingga dalam waktu relatif sangat  singkat sudah berhasil membuat 56 judul buku. Beliau menjelaskan bagaimana caranya bisa sangat produktif dalam menulis, di antaranya: pertama adalah masalah motivasi. Bagi narasumber ini menjadi penulis adalah sebuah impian yang hendak diwujudkannya dan menurutnya mahkota bagi seorang penulis adalah buku tulisannya. Beliau pun punya impian bahwa buku tulisannya akan dipajang di rak display toko buku utama, dan semua impian itu merupakan motivasi baginya dalam karir kepenulisannya. Selain itu narasumber  ini juga mengatakan bahwa motivasinya dalam menulis buku  adalah keinginan untuk mengukir makna hidup.

Hak kedua yang disampaikannya adalah perlu adanya bekerja keras., beloau memberikan nasihat kepada para peserta KBMN Angkatan 28 ini untuk tidak berhenti menulis. Oleh karenanya sangat penting bagi kita untuk bisa membagi waktu. Salah satu cara terbaik dalam membagi waktu untuk menulis menurut beliau adalah “luangkan waktu untuk menulis jangan menunggu waktu luang baru menulis!” itu kuncinya. Selain itu dalam kaitan bekerja keras ini, seorang penulis juga harus rajin membaca. Salah satu metode baca yang disarankannya adalah Blog Walking (BW). Terutama di KBMN ini, ada banyak blog dan tulisan yang bisa dibaca yang akan memperkaya diri kita. Menurutnya, “Rajin membaca akan membuatmu semakin gemuk menulis”.

Contoh lain dari kerja keras yang dilakukan narasumber ini adalah rajin ikut lomba, ya...walau pun mungkin di awal bukan untuk jadi pemenang hanya sekedar untuk tampil berani. Setidaknya ada dua kejuaraan yang berhasil diraihnya, yaitu Juara 1 Lomba Blog PGRI dan Juara 10 besar HUT AISEI kategori artikel favorit.

Hal lain lagi yang disebutkannya dalam rangka menjadi penulis produktif adalah agar kita mau menuliskan  pengalaman kita sendiri, beliau mengatakan ini karena pengalamannya dan sudah berhasil mempraktekkannya seperti contoh yang sudah disebutkan di atas. Selain itu, perlu  menjaga semangat untuk menulis agar tetap berkobar, narasumber menyarankan agar selalu menjaga “mood” (suasana hati). Karena tidak dipungkiri bahwa dalam proses menulis terkadang timbul kelelahan atau pun kebosanan, maka istrirahatlah jangan paksakan diri. Beliau mencontohkan rehat yang biasa dilakukannya antara lain dengan karaoke, merajut atau healing kecil-kecilan.

Sehubungan dengan ide-ide untuk menulis, disampaikannya bahwa  ide bisa ditimbulkan dengan memperhatikan apa yang kita lihat, kita dengan dan kita sukai. Sebuah foto atau gambar misalnya, sesungguhnya memuat seribu cerita, sehingga dari sebuah foto kita akan bisa memperoleh banyak ide untuk tulisan kita. Untuk itu hal yang perlu dijaga adalah memiliki rasa percaya diri sebagai penulis, karena  kita harus berproses, melalui berbagai rintangan dan hambatan dalam berlatih menulis. Menjadi penulis besar tidak bisa serta merta, sim salabim, langsung jadi, namun harus memulai yang pertama, kita harus menulis sebisanya saja dulu.

Belajar tidak memandang usai dan  bukan alasan untuk menyerah, seperti contoh yang beliau berikan adalah Bunda Kanjeng yang mulai menjadi penulis di usia yang sudah setengah abad. Maka yang perlu diingat adalah pepatah “Better Late Than Never” (lebih Bbaik terlambat dari pada tidak samasekali) dan seperti hadis Rosul yang artinya, "Belajar itu dari buaian sampai keliang lahad."

Mungkin jika semangat kita mulai mengendur,  hendaknya kita mengingat kembali niat awal kita yaitu ingin berbagi melalui tulisan, innamal a'malu bin niyat, semoga ini menajdi motivasi besar bagi para penulis. Semoga kita bisa menyusul seperti bu Aam untyk bisa menjadi penulis yang produktif walau pun usia sudah lanjut.

Terimakasih.
Salam 
 
Makassar, 14 Januari 2023 

Hesti Anshor